Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2009

WISATA ALAM

0 komentar

GUNUNG PUNTANG
Oleh : Ahidayat

Daerah Bandung Selatan ternyata mempunyai sebuah objek wisata bersejarah yang cukup unik di Gunung Puntang. Bila anda sudah bosan berkunjung ke Ciwidey yang terkenal dengan objek wisata Kawah Putih dan Situ Patenggang-nya, dan andapun telah jenuh berkunjung ke Pengalengan, tidak ada salahnya mencoba berkunjung kekawasan ini.


Gunung Puntang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Malabar. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang dikelola oleh pihak Perhutani. Udara yang sejuk pada ketinggian 1290 m, sungai yang jernih ditambah dengan paduan pohon pinus yang tumbuh alami, memberikan kedamaian tersendiri saat berada di lokasi. Keindahan panorama sekitar kawasan ini sudah bisa dinikmati sepanjang perjalanan semenjak dari persimpangan jalan Banjaran-Pangalengan dan jalan Gunung Puntang. Saat tiba di gerbang Perhutani, sempatkan waktu berhenti sejenak untuk melihat hamparan Plato (lempengan) Bandung dari ketinggian. Kabarnya, di musim penghujan, area Malabar merupakan salah satu daerah konsentrasi hujan.


Untuk masuk ke areal perkemahan, dikenakan biaya yang relatif murah. Tiket perorangan 4000 rupiah per hari, sewa lahan per 3 orang 2500 rupiah, sepeda motor 1000 rupiah, sedan/minibus 3000 rupiah sedangkan bus/truk 5000 rupiah. Selain berkemah, aktifitas-aktifitas outdoor seperti forest tracking atau sekedar main air di kali yang jernih dapat menjadi pilihan bagi pengunjung. Sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter dapat menjadi target alternatif dengan cara melakukan perjalanan selama 2 jam menembus hutan. Untuk mencapai lokasi Curug Siliwangi ini, sebaiknya menggunakan jasa pemandu arah setempat agar tidak tersesat.

Lahan perkemahan yang ada di kawasan ini cukup nyaman. Sudah tersedia fasilitas MCK (sayang, kurang terurus), rumah kecil milik perhutani (cabin) yang bisa disewa (cukup mewah untuk ukuran “anak gunung”), dan yang paling penting, beberapa warung juga tersedia! Bahkan fasilitas listrik juga sudah masuk.

Tidak hanya menawarkan wisata alam yang menyejukkan hati, dikawasan ini terdapat sebuah objek wisata sejarah peninggalan bangsa Belanda yang cukup unik. Pada tahun 1923 area ini merupakan suatu lokasi yang sangat terkenal di dunia karena terdapat sebuah stasiun pemancar radio Malabar yang dirintis oleh Dr. de Groot. Sebuah pemancar radio yang sangat fenomenal dikarenakan antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2Km, membentang diantara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Sulit untuk dibayangkan bagaimana cara mereka membangun dengan menggunakan teknologi yang ada pada masa tersebut.


Pada bagian dasar lembah, dahulu terdapat suatu bangunan yang cukup besar yang berfungsi sebagai stasiun pemancar guna mendukung komunikasi ke negeri Belanda yang berjarak 12000 km. Uniknya, mereka bisa mendapatkan lokasi yang sangat ideal, karena arah propagasi struktur antena tersebut memang menuju negara Kincir Angin terebut. Terlebih tempat ini cukup tersembunyi.

Uniknya, stasiun ini adalah murni pemancar, sedangkan penerimanya ada di Padalarang (15km) dan Rancaekek (18km). Hebohnya lagi, karena teknologinya masih boros energi, Belanda membangun PLTA di Dago, PLTU di Dayeuh kolot, dan PLTA di Pangalengan, lengkap dengan jaringan distribusinya hanya untuk memenuhi kebutuhan si pemancar ! Pemancar ini antara lain masih menggunakan teknologi kuno yaitu busur listrik (Poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowat gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km s/d 7,5 km.

Bagi yang tertarik dengan sejarah stasiun radio Malabar ini, dapat mendownload ulasannya pada majalah tahun 1925 berbahasa Jerman di http://www.xs4all.nl/ . Sedangkan foto-foto antiknya bisa dilihat di http://home.luna.nl/~arjan-muil/radio/history/malabar/malabar1.html


Gedung radio pemancar ini bentuknya sangat cantik di masa itu. Sayangnya, saat ini bangunan tersebut hanya tersisa beberapa potong tembok saja, dikarena struktur bangunannya yang terbuat dari separuh kayu dan separuh tembok. Selain sepotong sisa bangunan tadi, ada juga sisa struktur dinding kolam yang saat ini dikenal dengan nama Kolam Cinta. Konon ada kepercayaan, jika sejoli berpacaran di lokasi ini akan membawa dampak bagi kelangsungan hubungan mereka. Kalau mau mendaki, sisa-sisa antena juga masih bisa dilihat dilereng gunung.

Selain bangunan utama berupa stasiun radio pemancar, pada area Gunung Puntang ini dahulunya juga terdapat perkampungan yang dihuni oleh awak stasiun pemancara dengan fasilitas yang cukup lengkap. Perkampungan yang dikenal dengan Kampung radio (Radio Dorf) ini juga dilengkapi rumah-rumah dinas petugas, lapangan tenis, bahkan konon gedung bioskop juga tersedia di masa tersebut.

Sebuah gua peninggalan Belanda juga bisa ditemukan disini dan bisa ditelusuri dengan mudah meskipun bagian dasar gua cenderung becek pada bagian dalamnya. Mulut gua ini cukup tersembunyi diantara lekukan tanah yang bila diperhatikan secara sekilas mirip dengan wajah harimau.

Kembali ke masa sekarang, pada area Gunung Puntang terdapat sebuah fasilitas rekreasi yang tidak kalah menarik. Fasilitas milik swasta ini berupa taman (namanya :Bougenvile) yang di dalamya terdapat 3 villa, 2 kolam renang, tempat bermain anak dan lokasi ini dialiri beberapa stream sungai kecil yang sangat jernih airnya. Kolam renang yang ada meperoleh pasukan air langsung dari mata air yang mengalir terus menerus sehingga selalu jernih, dingin dan bebas kaporit.


Untuk masuk ke lokasi ini kita harus juga membeli tiket masuk dan parkir mobil. Vila-vila yang ada bisa disewa dengan tarif dari 700 ribu sampai 800 ribu rupaih. Jika berminat untuk menyewa seluruh lokasi beserta semua fasilitas yang ada dikenakan biaya sebesar 4 juta rupiah sehari.

Sebenarnya Bandung selatan menyimpan banyak potensi wisata sejenis, tapi sayang, pamornya kalah dengan Bandung Utara, apalagi untuk mencapainya umumnya melewai daerah Dayeuhkolot yang terkenal langganan banjir…. Saran saya, coba lewat Cimahi menuju Soreang.

Sumber : http://liburan.info

WISATA ALAM

0 komentar

SITU BAGENDIT
Oleh :
Muhtar I.T./”PR


“TOLONGLAH Nyai, berilah hamba sedikit makanan,” ujar pengemis itu mengiba.
Melihat pengemis tua berbaju kotor dan compang-camping masuk ke kenduri di rumahnya, Nyi Endit, janda kaya itu, bukannya merasa kasihan. Yang terusik justru sifat tamak, kikir, dan sombong yang bersemayam dalam dirinya. Dengan kasar, Nyi Endit mengusir pengemis tua itu dari hadapannya. “Hai pengemis tua, jangan kotori pestaku dengan rupamu yang buruk dan bajumu yang bau, enyahlah kau dari rumahku,” ucap Nyi Endit membentaknya.


Dengan sedih dan gontai pengemis itu pergi. Keesokan harinya, masyarakat dibuat geger oleh kemunculan sebatang lidi yang tertancap di jalan desa. Semua orang berusaha mencabut lidi yang menghalangi aktivitas mereka. Akan tetapi, tak satu pun yang berhasil. Sampai akhirnya, muncul pengemis tua yang kemarin diusir oleh Nyi Endit. Dengan ringannya, ia mencabut lidi itu.
Akan tetapi, dari lubang bekas lidi tertancap itulah menyembur air dengan derasnya. Kali ini semburan air itu tak bisa dicegah, terus membanjiri, menggenangi, dan menenggelamkan segala yang dilewatinya. Penduduk yang ketakutan, berlarian menyelamatkan diri, naik ke puncak-puncak bukit dan punggung gunung, tak peduli dengan harta benda milik mereka. Hanya Nyi Endit seorang, yang karena terlampau sayang kepada harta benda miliknya, enggan meninggalkan rumahnya. Ia akhirnya mati ditelan air yang kemudian mendanau.


Bikin penasaran


Kisah Nyi Endit, si janda kaya nan sombong, tamak, dan kikir yang tenggelam ditelan danau begitu melegenda. Kisah yang menjadi ending sekaligus inti dari legenda atau sasakala Situ Bagendit, danau kecil yang terletak di Kecamatan Banyuresmi, Kab. Garut itu, termasuk salah satu dongeng terpopuler di masyarakat Jawa Barat. Kisahnya tak hanya dijadikan kisah pengantar tidur bagi anak-anak, dibacakan di sekolah-sekolah, bahkan berkali-kali disinetronkan.


Yang namanya legenda, tentu saja bersifat terbuka terhadap segala tafsir. Termasuk, terbuka juga terhadap kemungkinan orang percaya bahwa terbentuknya Situ Bagendit tak sekadar dongeng penuh siloka atau kisah berhikmah yang di dalamnya berisi nasihat, namun kisah itu true story alias kejadian nyata. Kenyataannya –seperti terhadap kebanyakan legenda yang ada– tak sedikit orang percaya bahwa Nyi Endit bukanlah tokoh fiksi hasil kreasi pujangga, melainkan sosok nyata yang pernah hidup di suatu zaman.


Terlepas orang percaya atau tidak, yang pasti, kisah tragis Nyi Endit begitu menarik sehingga menjadi alasan bagi banyak orang dari berbagai daerah mau berkunjung ke Situ Bagendit. Paling tidak, orang mau datang karena dibuat penasaran terhadap situs atau “peninggalan” tokoh legenda bernama Nyi Endit.


“Ya, namanya juga legenda Pak, pasti ceritanya bikinan orang zaman dulu dengan maksud tertentu. Tapi, kadang saya juga suka dibuat penasaran, jangan-jangan di tengah Situ Bagendit ini memang ada harta karun milik Nyi Endit. Kalau bisa sih, sekali-kali ada ekspedisi atau penelitian untuk membuktikan hal itu,” kata Asep, pemuda asal Tasikmalaya, sedikit berseloroh.
Seperti Asep, ada ratusan orang setiap bulannya yang berkunjung ke Situ Bagendit. Danau yang diapit empat desa, yakni Banyuresmi (di utara), Cipicung (selatan), Binakarya (timur), dan Sukamukti (barat) itu rata-rata setiap bulannya dikunjungi 700 orang. Mereka datang bukan hanya dari Kab. Garut, melainkan juga dari Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Banjar, Bandung, bahkan Bogor dan Jakarta.


Umumnya, para wisatawan datang secara berkelompok, ada yang sekeluarga dengan satu mobil atau rombongan besar dengan beberapa bus. Ada juga yang menggunakan sepeda motor. “Biasanya Bagendit ramai pada hari Sabtu, Minggu, dan liburan. Yang pakai bus biasanya dari Jakarta,” kata Ny. Euis, pemilik warung apung di tengah Situ Bagendit.


Harga tiket masuk ke kawasan objek wisata Situ Bagendit relatif murah, Rp 2.000,00 per orang. Di area rekreasi, pengelola memang tidak menyediakan jasa pelayanan rekreasi mencari harta karun Nyi Endit. Jika pun ada, harta karun yang bisa dinikmati wisatawan adalah pemandangan alam nan elok dipandang mata, danau dengan latar belakang gunung dan bukit menjulang. Pemandangan itulah yang biasanya membetot rasa penasaran pengunjung untuk berlayar ke tengah danau menggunakan rakit bambu.


Untuk bisa menikmati pelayaran dengan rakit bambu yang berkapasitas 10 orang itu, pengunjung harus membayar Rp 30.000,00. Dengan durasi 30 menit, rakit itu membawa wisatawan berlayar ke tengah danau sambil menikmati cipratan air dan embusan udara dari pegunungan yang menyegarkan. “Nahkoda” rakit kemudian menambatkan rakitnya di warung apung di tengah danau yang menyediakan segala rupa makanan dan minuman.


Di warung inilah, wisawatan “disuruh” istirahat sejenak, menikmati kopi panas, segarnya air dawegan (kelapa muda), atau semangkuk mi rebus. Setelah puas, biasanya wisawatan ditawari berlayar ke ujung danau, di dekat gunung yang menjulang, tetapi tentu saja harus membayar lagi Rp 30.000,00. Jika tak bersedia, sang nahkoda rakit akan membawa wisatawan kembali ke pangkalan, menurunkan wisatawan, untuk kemudian membawa wisatawan lain berlayar ke tengah danau. Begitu seterusnya aktivitas yang dilakukan oleh sekitar 60 pengelola rakit yang ada di Situ Bagendit.


Tak hanya berlayar dengan rakit, wisatawan juga bisa menikmati rekreasi dengan menyewa sepeda air atau angsa dengan tarif Rp 10.000,00 selama 15 menit. Sementara di darat, di sisi danau, wisatawan bisa menikmati perjalanan dengan naik kereta api mini dengan tarif Rp 2.000,00. Sayangnya, rekreasi naik kereta api mini itu sangat membosankan karena hanya berputar-putar di area yang mudah dijangkau dengan jalan kaki. Padahal, jika rutenya dibuat khusus, mungkin akan lebih menarik.


Dilihat dari kondisi alamnya, sebenarnya Situ Bagendit sangat potensial menjadi objek wisata unggulan. Bentang alamnya sangat memukau setiap orang yang memandangnya. Itulah barangkali, harta karun sebenarnya yang ditinggalkan Nyi Endit.


Sayangnya, kondisi Situ Bagendit masih sangat memprihatinkan. Bukan saja fasilitas rekreasi seperti rakit bambu yang rata-rata sudah berusia tua, melainkan juga kondisi air danau yang dibiarkan kotor dan dipenuhi oleh eceng gondok. Sering kali, pelayaran menggunakan rakit atau sepeda air harus bertabrakan dengan onggokan eceng gondok yang mengapung dan menutupi permukaan air danau. Tentunya, ini adalah pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh pengelola Situ Bagendit.


Sumber : : http://www.pasundan.info/travel/situ-bagendit.html

WISATA ALAM

0 komentar
GUNUNG BURANGRANG

Oleh : Imam Syarifuddin


UDARA dingin di Desa Kertawangi terasa begitu menusuk sumsum. Nyanyian burung-burung di pagi hari terasa begitu indah dan harmonis. Puncak Gunung Burangrang masih tertidur diselimuti kabut putih yang menawan. Tampaknya sinar matahari pagi masih enggan memancarkan sinarnya seakan-akan masih terbuai dalam tidurnya.


Wisata alam Gunung Burangrang yang terletak di Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung, tidak pernah sepi dari para wisatawan petualang yang ingin menikmati keindahannya dengan berbagai pesona alam dan misterinya.
Untuk mencapai Gunung Burangrang dapat ditempuh dari berbagai jalur pendakian, misalnya melewati Desa Kertawangi, dari arah Bandung menuju Cihanjuang dengan ongkos Rp 3.000,.


Kemudian dari Cihanjuang dilanjutkan dengan angkutan mobil Colt warna ungu menuju Parongpong seharga Rp 3.500 atau bisa diborong sampai dengan Gerbang Komando seharga Rp 4.000,00 per orang. Dari Pos Komando, kita akan menemukan jalan berbatu sampai Gerbang Militer Kopassus, dari sana belok ke kiri, jangan masuk ke gerbang Militer karena bila masuk akan menuju Situ Lembang, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkuban Parahu.


Sepanjang jalan menuju pintu gerbang Situ Lembang akan melewati bukit-bukit yang indah dan cukup menguras tenaga. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang, kebanyakan bertani sayuran dan berternak sapi. Mereka sangat ramah seperti orang-orang Sunda pada umumnya jika menyambut tamu. Jika naik dari Cihanjuang, sepanjang jalan yang dilewati akan dijumpai vila-vila dan perumahan yang indah serta wahana wisata Curug Cimahi yang berada di kaki Gunung Burangrang.


Ada pula cara lain, misalnya berangkat dari Bandung menuju Subang dengan kendaraan bis atau mobil Elf, lalu turun di gerbang Tangkubanparahu yang merupakan objek wisata alam yang cukup terkenal di Jawa Barat. Dari Puncak Gunung Tangkubanparahu, kita menuruni tower Tangkubanparahu menuju Gunung Burangrang dengan terlebih dahulu akan melewati kawah Upas, Domas, Ratu, dan Jurig yang cukup menawan di kawasan Tangkubanparahu.


Saat kami berada di puncak Gunung Burangrang, lambat laun matahari mulai bangkit dari peraduannya dan perlahan-lahan menerangi Desa Kertawangi, sehingga menjadi terang dan cerah. Desa Kertawangi merupakan titik awal pendakian menuju puncak Gunung Burangrang. Walaupun gunung itu tidak terlalu tinggi, kawasan hutan Gunung Burangrang memiliki jenis flora dan fauna yang bervariasi. Kelebatan hutannya pun masih terjaga dengan baik sehingga menarik bagi para petualang alam bebas.


Di samping keindahan alamnya, di kawasan Gunung Burangrang terdapat danau yang cukup besar dan indah bernama Situ Lembang. Situ ini jika terkena sinar matahari akan memantulkan warna pelangi yang memesona. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang memanfaatkan situ (danau) ini untuk memancing, karena di Situ Lembang terdapat berbagai jenis ikan untuk dikonsumsi.


Tepat pukul 8.00 WIB memulai melakukan pendakian dengan tidak lupa mengisi persediaan air yang cukup, karena sumber air di atas sana sulit dijumpai selama perjalanan pendakian. Dengan diiringi doa, kami mulai berangkat menuju puncak Gunung Burangrang.


Suara harmoni burung-burung berkicau masih terdengar saling bersahutan melepas kepergian kami menuju puncak.
Sepanjang jalan pendakian masih didominasi pohon-pohon pinus. Kami melewati bukit-bukit yang menguras banyak tenaga. Sejenak kami beristirahat menghirup udara segar alam Burangrang. Sekali-kali cahaya langit mengintip di balik daun-daun dalam kelebatan hutannya.


Puncak Burangrang dapat ditempuh kurang lebih empat jam pendakian dari Desa Kertawangi. Bila telah tiba di puncak, ada rasa damai, tenteram, serta bahagia, yang seolah-olah menyatu dalam batin. Dari puncak Gunung Burangrang pemandangannya menakjubkan dan tampak awan putih menyelimuti gunung-gunung di sekitarnya. Terlihat pula dengan jelas dari kejauhan Gunung Tangkubanparahu nan elok.


Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah hamparan sawah dan rumah-rumah di sekitar Cisarua serta Situ Lembang yang terlihat begitu indah dan menawan. Matahari naik semakin tinggi. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami memutuskan untuk turun kembali menuju Desa Kertawangi yang merupakan titik awal pendakian.


Sumber : http://www.pasundan.info/travel/gunung-burangrang.html

Senin, 09 November 2009

WISATA ALAM

0 komentar
OBJEK WISATA DI BANDUNG SELATAN

KAWAH PUTIH
Kawah Putih berada di kawasan daerah wisata Ciwidey, kurang lebih 44 Km dari Kota Bandung ke arah Selatan. Pemandangan kawah yang menghampar putih, membuat orang menyebutnya dengan kawah putih. Disekitar lokasi tersedia kios aneka cinderamata.



PERKEBUNAN TEH RANCA BALI

Terletak di kawasan perkebunan Ciwidey. Alam perkebunan teh yang menghijau segar dan indah, sangat cocok untuk dijadikan tujuan rekreasi. Fasilitas yang tersedia di kawasan ini adalah bungalow, pemandian air panas alam dan fasilitas pendukung lainnya yang diperlukan oleh para wisatawan
.


SITU PATENGGANG Berlokasi di kawasan daerah wisata Ciwidey, kurang lebih 47 Km dari kota Bandung ke arah Selatan dan berada tepat di lingkungan perkebunan teh Rancabali. Situ Patenggang merupakan tempat wisata yang berhawa sejuk segar, panorama alamnya yang indah banyak mendapat kunjungan dari para wisatawan.

PENANGKARAN RUSA RANCA UPAS
Ranca Upas adalah areal yang disediakan bagi perkemahan, dibawah pengelolaan Perhutani. Disamping disiapkan untuk Bumi Perkemahan, Ranca Upas memiliki areal yang dipergunakan untuk penangkaran Rusa.




PEMANDIAN AIR PANAS RANCA WALINI
Terletak di kawasan daerah wisata Ciwidey atau 46 Km dari kota Bandung. Tempat yang cocok untuk keluarga, tersedia kolam renang sumber air panas alam , restaurant, taman rekreasi untuk anak-anak dan bungalow bagi yang ingin menginap, serta fasilitas pendukung lainnya.


PERKEBUNAN TEH GAMBUNG

Gambung memiliki panorama alam yang indah. Gambung adalah daerah perkebunan teh, di Gambung inilah adanya pusat penelitian dan pengembangan tanaman teh.



Sumber :
http://wie_2.tripod.com/bdg-sltn1-wisata.htm